Kematian tragis Ermanto Usman menyisakan satu pertanyaan yang tidak nyaman bagi negara, apakah berkata benar di Indonesia sekarang lebih berbahaya daripada mencuri uang negara?
Ermanto bukan pejabat. Ia bukan orang kaya. Ia hanya seorang pensiunan pekerja pelabuhan yang sepanjang hidupnya terbiasa menghirup bau solar, debu kontainer, dan keringat buruh. Tapi justru dari tempat itulah ia berani bersuara tentang sesuatu yang jauh lebih besar, dugaan korupsi dalam pengelolaan Jakarta International Container Terminal yang nilainya disebut-sebut mencapai triliunan rupiah.
Ia bicara di podcast. Ia memberi kesaksian. Ia menyebut nama. Ia tahu risikonya.
Lalu suatu malam, ia ditemukan tewas bersimbah darah di rumahnya. Istrinya terkapar kritis.
Negara tentu cepat memberi pernyataan standar, kasus sedang diselidiki. Polisi bergerak. Tim dibentuk. Kalimat yang selalu terdengar gagah di konferensi pers.
Namun publik di negeri ini sudah terlalu sering mendengar kalimat yang sama.
Masalahnya bukan sekadar siapa pelakunya. Masalahnya adalah suasana yang tercipta, bahwa orang yang mengungkap kebenaran sering kali berakhir sendirian, sementara mereka yang bermain dengan triliunan rupiah tetap hidup nyaman di ruang ber-AC.
Negara seolah memiliki dua wajah. Yang satu galak kepada rakyat kecil. Yang satu lagi sangat sopan kepada para pemain besar.
Di jalan raya, rakyat bisa ditilang karena knalpot.Di meja kekuasaan, uang negara bisa hilang triliunan tanpa ada yang benar-benar panik.
Inilah ironi terbesar republik ini, hukum sering tampak tajam ke bawah, tetapi begitu sopan ketika menengadah.
Karena itu kematian Ermanto tidak sekadar tragedi keluarga. Ia adalah cermin yang memantulkan wajah negara hari ini. Wajah yang membuat orang mulai bertanya dalam hati, apakah aman menjadi orang jujur?
Jika seseorang yang berani membongkar dugaan korupsi bernilai triliunan rupiah akhirnya mati mengenaskan di rumahnya sendiri, maka pesan yang sampai ke publik sangat jelas meski mungkin tidak pernah diucapkan secara resmi.
Pesannya sederhana "jangan terlalu berani."
Padahal negara yang sehat justru membutuhkan orang-orang seperti Ermanto. Orang yang berani bicara ketika banyak orang memilih diam. Orang yang mengingatkan bahwa uang negara bukan milik segelintir elite.
Tanpa orang seperti itu, republik ini perlahan berubah menjadi ladang nyaman bagi para perampok berdasi.Maka sekarang bola ada di tangan negara dan aparat penegak hukum. Bukan sekadar mencari pelaku di lapangan, tetapi membuktikan kepada publik bahwa hukum masih punya nyali menatap ke atas, bukan hanya ke bawah.
Jika tidak, kematian Ermanto akan menjadi lebih dari sekadar kasus kriminal. Ia akan menjadi simbol baru, bahwa di negeri ini, membongkar korupsi bisa lebih berbahaya daripada melakukan korupsi itu sendiri.
