Dari Pohon Beringin ke Kebun Binatang Politik Kita Sedang Jadi Lomba Maskot



Dulu, partai politik di Indonesia suka memakai simbol yang terasa “membumi”. Ada pohon yang menaungi, ada banteng yang melambangkan kekuatan rakyat, ada matahari yang menyiratkan pencerahan. Simbol-simbol itu setidaknya mencoba memberi pesan: partai punya akar, punya arah, punya cerita.

Misalnya Partai Golongan Karya dengan pohon beringinnya, simbol tempat berteduh. Atau Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dengan banteng moncong putih ikon perlawanan rakyat kecil.
Namun politik modern tampaknya mulai berubah. Simbol partai kini makin mirip logo brand atau maskot pertandingan. Yang penting terlihat gagah, mudah dicetak di kaos, dan cocok jadi stiker di motor.
Lihat saja fenomena baru ini.
Ada partai yang mengusung gajah sebagai simbol kampanye seperti yang dilakukan oleh Partai Solidaritas Indonesia. Gajah memang hewan besar, kuat, dan katanya cerdas. Tapi publik pun bertanya-tanya, sejak kapan gajah jadi metafora politik Indonesia?
Apakah ini simbol ideologi, atau sekadar pilihan desain yang terlihat keren di baliho?
Di sisi lain, muncul pula simbol harimau atau macan seperti yang digunakan oleh Partai Gerakan Rakyat. Gagah memang. Garang juga. Tapi sekilas orang bisa salah sangka, ini partai politik atau logo sepatu olahraga seperti Puma?
Fenomena ini seolah memperlihatkan satu hal, politik kita makin menyerupai industri branding. Ideologi disederhanakan menjadi gambar. Program disingkat menjadi slogan. Debat diganti desain grafis.
Akhirnya publik seperti diajak menonton sebuah pameran yang unik, panggung politik yang pelan-pelan berubah menjadi kebun binatang simbolik. Ada banteng yang mengamuk saat kampanye, ada gajah yang berjalan perlahan membawa janji, ada macan yang mengaum di baliho ada pula burung mitologi Garuda yang mengklaim paling nasionalis.
Sayangnya, di tengah hiruk-pikuk maskot itu, rakyat sering bertanya satu hal yang sederhana di mana gagasan besarnya?
Karena sekuat apa pun simbol hewan yang dipasang di spanduk, yang dibutuhkan rakyat bukan auman macan atau langkah gajah melainkan kebijakan yang benar-benar berpihak pada mereka.
Kalau tidak, politik kita akan terus jadi tontonan yang aneh,
bukan pertarungan ide, melainkan festival maskot yang berlomba terlihat paling garang di baliho, tapi paling sunyi saat rakyat membutuhkan keberpihakan.