Tapi di balik slogan yang manis itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan: apakah negara benar-benar sedang menolong anak-anak, atau sekadar sedang memelihara proyek politik raksasa?
Jika suatu hari MBG dihentikan, mungkin sebagian orang akan panik seolah-olah anak-anak Indonesia tiba-tiba tidak punya makanan.
Padahal sebelum program ini lahir, anak-anak tetap makan
di rumah, dari orang tuanya, dari dapur keluarga yang selama ini menjadi benteng utama kehidupan. Negara tiba-tiba datang membawa piring, lalu mengklaim dirinya sebagai penyelamat gizi bangsa.
Masalahnya bukan pada niat memberi makan, tapi pada cara berpikir yang menyederhanakan kemiskinan menjadi sekadar urusan piring nasi.
Seolah-olah persoalan gizi selesai hanya dengan proyek dapur massal yang menelan anggaran raksasa.
Di negara yang masih kekurangan guru, ruang kelas rusak, puskesmas terbatas, dan desa-desa berjuang membangun ekonomi lokal, pemerintah justru memilih proyek yang sangat mahal dan sangat populis.
Anggaran yang seharusnya bisa memperbaiki sistem pangan keluarga, memperkuat ekonomi desa, atau meningkatkan layanan kesehatan ibu dan anak, malah dialirkan ke logistik makanan harian yang rawan pemborosan dan permainan proyek.
Ironinya, program ini muncul dari kepemimpinan Prabowo Subianto, yang dulu sering berbicara tentang kemandirian bangsa dan kekuatan rakyat.
Namun yang terlihat sekarang justru pendekatan yang berpotensi membuat rakyat semakin bergantung pada negara untuk hal paling dasar "makan".
Padahal bangsa yang kuat bukan bangsa yang setiap hari menunggu nasi dari program pemerintah. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang dapur rumah tangganya hidup, petaninya sejahtera, dan orang tuanya mampu memberi makan anaknya tanpa harus menunggu distribusi proyek negara.
Jadi kalau suatu hari MBG dihentikan, mungkin yang benar-benar kehilangan bukan anak-anak Indonesia. Yang kehilangan justru para kontraktor dapur, rantai proyek, dan panggung politik yang selama ini memanen tepuk tangan dari program yang terlihat heroik di permukaan.
Anak-anak tetap bisa makan dari dapur keluarganya.
Yang mungkin berhenti makan justru industri populisme yang selama ini kenyang dari proyek bernama kepedulian.
