Ketika Karaoke Sepi dan Tukang Bangunan Menganggur: Alarm Ekonomi yang Tidak Didengar Negara



Kalau ingin tahu ekonomi sedang sehat atau sakit, jangan hanya lihat angka di layar konferensi pers. Lihatlah tempat yang paling jujur membaca kondisi dompet rakyat pasar desa, proyek bangunan, dan ' ya' tempat hiburan malam.

Di sana ekonomi tidak pandai berbohong. Beberapa tahun lalu, desa masih punya mesin perputaran uang. Pembangunan jalan, rehab rumah, proyek kecil dari dana desa, pengadaan ini-itu. Nilainya mungkin hanya satu sampai dua miliar rupiah setahun per desa, tapi uang itu berputar seperti darah dalam tubuh ekonomi lokal.
Tukang bangunan dapat kerja. Toko material hidup.Warung makan ramai. Buruh tani punya tambahan penghasilan.
Sekarang mesin itu seperti dipreteli pelan-pelan.
Anggaran besar ditarik ke pusat untuk membiayai program raksasa seperti Program Makan Bergizi Gratis, program unggulan pemerintahan Prabowo Subianto yang katanya demi masa depan anak-anak bangsa.
Secara konsep tentu mulia. Siapa yang menolak anak-anak makan bergizi?
Masalahnya bukan pada makanannya. Masalahnya pada aliran uangnya.
Di lapangan, pemasok bahan dan distribusi justru dikuasai perusahaan besar dari kota. Vendor besar, distributor besar, logistik besar. Desa yang seharusnya menjadi dapur ekonomi malah hanya menjadi ruang makan.
UMKM lokal? Mereka bahkan belum selesai berjuang mengakses modal. Negara mengajak mereka ikut lomba ekonomi, tapi sepatu untuk berlari saja belum diberikan.
Akibatnya sederhana, uang negara triliunan, tapi perputaran ekonomi desa tetap cekak. Dan seperti biasa, tanda-tanda krisis paling jujur justru muncul di tempat yang sering dianggap remeh yaitu sektor hiburan malam.
Di sana ekonomi selalu telanjang. Ketika uang masyarakat longgar, karaoke penuh, meja bar ramai, dan pekerja hiburan pulang membawa uang untuk membayar kontrakan serta menyekolahkan anak.
Sekarang? Lampu masih menyala, tapi tamunya hilang.
Banyak pemandu tamu kehilangan pekerjaan. Sebagian diputus kerja. Sebagian pulang kampung membawa cerita pahit, pekerjaan hilang, kontrakan menunggak, anak terancam putus sekolah.
Ekonomi yang lesu tidak hanya mematikan usaha, tapi juga memindahkan masalah ke kampung halaman ke keluarga yang sebenarnya juga sedang kesulitan.
Yang lebih ironis lagi, ketika pekerjaan hilang, harga makanan justru naik.
Harga telur ayam, tahu, dan tempe menu paling sederhana rakyat terus merangkak naik. Bagi kelas menengah mungkin itu sekadar angka di struk belanja. Bagi buruh harian, itu adalah selisih antara makan cukup atau makan sekadarnya.
Di sektor lain, tukang bangunan mulai lebih sering duduk di warung daripada memegang cetok semen. Proyek properti melambat. Orang menunda membangun rumah. Semua orang mengencangkan ikat pinggang.
Dalam ekonomi, ketika semua orang berhemat secara bersamaan, hasilnya bukan efisiensi melainkan kelesuan.
Pasar sepi. Proyek berhenti. Warung lengang.Karaoke sunyi.
Dan negara masih sibuk merayakan peluncuran program baru.
Ironinya, semakin besar program diumumkan, semakin kecil perputaran uang yang terasa di bawah.
Rakyat kecil akhirnya menjalankan program mereka sendiri, program bertahan hidup. Mengurangi makan, menunda belanja, meminjam ke rentenir karena bank terlalu jauh dari kehidupan mereka.
Pada akhirnya, ekonomi tidak pernah benar-benar bisa disembunyikan oleh statistik. Ia selalu bocor lewat tanda-tanda kecil, tukang bangunan yang menganggur, warung yang kehilangan pelanggan, dan karaoke yang lampunya terang tapi kursinya kosong.
Kalau tanda-tanda itu terus diabaikan, mungkin suatu hari pemerintah akan menemukan fakta sederhana, yang lapar bukan hanya anak-anak di sekolah, tapi juga orang tua mereka di rumah.
Dan ketika itu terjadi, angka pertumbuhan ekonomi setinggi apa pun tidak akan cukup untuk menutupi satu kenyataan pahit bahwa yang kenyang hanya laporan, bukan rakyatnya.